03.18
- Makanlah sahur, sehingga membantu kekuatan fisikmu selama berpuasa; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah. ” HR.’Al-Bukhari dan Muslim)
- “Bantulah
(kekuatan fisikmu) untuk berpuasa di siang hari dengan makan sahur, dan
untuk shalat malam dengan tidur siang ” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam
Shahihnya)
- Akan
lebih utama jika makan sahur itu diakhirkan waktunya, sehingga
mengurangi rasa lapar dan haus. Hanya saja harus hati-hati, untuk itu
hendaknya Anda telah berhenti dari makan dan minum beberapa menit
sebelum terbit fajar, agar Anda tidak ragu-ragu.
- Segeralah berbuka jika matahari benar-benar telah tenggelam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
- “Manusia
senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka dan
mengakhirkan sahur . ” (HR. Al-Bukhari, I\luslim dan At-Tirmidz)
- Usahakan mandi dari hadats besar sebelum terbit fajar, agar bisa melakukan ibadah dalam keadaan suci.
- Manfaatkan
bulan Ramadhan dengan sesuatu yang terbaik yang pernah diturunkan
didalamnya, yakni membaca Al-Qur’anul Karim. Sesungguhnya Jibril
‘alaihis salam pada setiap malam di bulan Ramadhan selalu menemui Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membacakan Al-Qur’an baginya. (HR.
AL-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu).Dan pada diri
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada teladan yang baik bagi kita.
- Jagalah
lisanmu dari berdusta, menggunjing, mengadu domba, mengolok-olok serta
perkataan mengada-ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
- “Barangsiapa
tidak meninggalkan pevkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh
terhadap puasanya dari makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari)
- Hendaknya
puasa tidak membuatmu keluar dari kebiasaan. Misalnya cepat marah dan
emosi hanya karena sebab sepele, dengan dalih bahwa engkau sedang puasa.
Sebaliknya, mestinya puasa membuat jiwamu tenang, tidak emosional. Dan
jika Anda diuji dengan seorang yang jahil atau pengumpat, jangan Anda
hadapi dia dengan perbuatan serupa. Nasihati dan tolaklah dengan cara
yang lebih baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
- “Puasa
adalah perisai, bila suatu hari seseorang dari kama beupuasa, hendaknya
ia tidak berkata buruk dan berteriak-teriak. Bila seseorang menghina
atau mencacinya, hendaknya ia berkata ‘Sesungguhnya aku sedang puasa”
(HR. Al- Bukhari, Muslim dan para penulis kitab Sunan)
- Harus lebih sabar, syukur, dan ihklas
- Ucapan
itu dimaksudkanagar ia menahan diri dan tidak melayani orang yang
mengumpatnya Di samping, juga mengingatkan agar ia menolak melakukan
penghinaan dan caci-maki.
- Hendaknya
Anda selesai dari puasa dengan membawa taqwa kepada Allah, takut dan
bersyukur pada-Nya, serta senantiasa istiqamah dalam agama-Nya. Hasil
yang baik itu hendaknya mengiringi Anda sepanjang tahun. Dan buah paling
utama dari puasa adalah taqwa, sebab Allah berfirman : “Agar kamu
bertaqwa. “(Al-Baqarah: 183)
- Jagalah
dirimu dari berbagai syahwat (keinginan), bahkan meskipun halal bagimu.
Hal itu agar tujuan puasa tercapai, dan mematahkan nafsu dari
keinginan. Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata : “Jika kamu
berpuasa, hendaknya berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu dan
lisanmu dari dusta dan dosa-dosa, tinggalkan menyakiti tetangga, dan
hendaknya kamu senantiasa bersikap tenang pada hari kama beupuasa jangan
pula kamu jadikan hari berbukamu sama dengan hari kamu berpuasa.”
- Hendaknya
makananmu dari yang halal. Jika kamu menahan diri dari yang haram pada
selain bulan Ramadhan maka pada bulan Ramadhan lebih utama. Dan tidak
ada gunanya engkau berpuasa dari yang halal, tetapi kamu berbuka dengan
yang haram.
- Perbanyaklah
bersedekah dan berbuat kebajikan. Dan hendaknya kamu lebih baik dan
lebih banyak berbuat kebajikan kepada keluargamu dibanding pada selain
bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang
yang paring dermawan, dan beliau lebih dermawan ketika bulan Ramadhan.
- Ucapkanlah
bismillah ketika kamu berbuka seraya berdo’a :”Ya Allah, karena-Mu aku
berpuasa, dan atas rezki-Mu aku berbuka. Ya Allah terimalah daripadaku,
sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “(44) (Lihat
Mulhaq (bonus) Majalah Al WaLul Islami bulan Ramadhan, 1390
H.hlm.38-40.)
- Memperbanyak
melakukan berbagai macam ibadah. Jibril’alaihis salam senantiasa
membacakan Al-Qur’anul Karim untuk beliau pada bulan Ramadhan; beliau
juga memperbanyak sedekah, kebajikan, membaca Al-Qur’anul Karim, shalat,
dzikir, i’tikaf dan bahkan beliau mengkhususkan beberapa macam ibadah
pada bulan Ramadhan, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan-bulan
lain.
- Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam menyegerakan berbuka dan menganjurkan
demikian, beliau makan sahur dan mengakhirkannya, serta menganjurkan dan
memberi semangat orang lain untuk melakukan hal yang sama. Beliau
menghimbau agar berbuka dengan kurma, jika tidak mendapatkannya maka
dengan air.
- Nabi’shallallahu
‘alaihi wasallam melarang orang yang berpuasa dari ucapan keji dan
caci-maki. Sebaliknya beliau memerintahkan agar ia mengatakan kepada
orang yang mencacinya, “Sesungguhnya aku sedang puasa.”
- Jika
beliau melakukan perjalanan di bulan Ramadhan, terkadang beliau
meneruskan puasanya dan terkadang pula berbuka. Dan membiarkan para
sahabatnya memilih antara berbuka atau puasa ketika dalam perjalanan.
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendapatkan fajar dalam
keadaan junub sehabis menggauli isterinya maka beliau segera mandi
setelah terbit fajar dan tetap berpuasa.
- Termasuk
petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membebaskan dari
qadha’ puasa bagi orang yang makan atau minum karena lupa, dan
bahwasanya Allahlah yang memberinya makan dan minum.
- Dan
dalam riwayat shahih disebutkan bahwa beliau bersiwak dalam keadaan
puasa. Imam Ahmad meriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam menuangkan air di atas kepalanya dalam keadaan puasa. Beliau
juga melakukan istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung) serta berkumur
dalam keadaan puasa. Tetapi beliau melarang orang berpuasa melakukan
istinsyaq secara berlebihan. (Lihat kitab Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil
‘Ibaad, I/320-338 )
- Puasa
yang disyari’atkan adalah puasanya anggota badan dari dosa-dosa, dan
puasanya perut dari makan dan mimum. Sebagaimana makan dan minum
membatalkan dan merusak puasa, demikian pula halnya dengan dosa-dosa, ia
memangkas pahala puasa dan merusak buahnya, sehingga memposisikannya
pada kedudukan orang yang tidak berpuasa.
- Karena
itu, orang yang benar-benar berpuasa adalah orang yang puasa segenap
anggota badannya dari melakukan dosa-dosa; lisannya berpuasa dari dusta,
kekejian dan mengada-ada; perutnya berpuasa dari makan dan minum;
kemaluannya berpuasa dari bersenggama.
- Bila
berbicara, ia tidak berbicara dengan sesuatu yang menodai puasanya,
bila melakukan suatu pekerjaan ia tidak melakukan sesuatu yang merusak
puasanya. Ucapan yang keluar darinya selalu bermanfaat dan baik,
demikian pula dengan amal perbuatannya. Ia laksana wangi minyak kesturi,
yang tercium oleh orang yang bergaul dengan pembawa minyak tersebut.
Itulah metafor (perumpamaan) bergaul dengan orang yang berpuasa, ia akan
mengambil manfaat dari bergaul dengannya, aman dari kepalsuan, dusta,
kejahatan dan kezhaliman.
- Dalam
hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan : “Dan sesungguhnya ban (mulut)
orang puasa itu lebih harum di sisi AIlah daripada aroma minyak kesturi.
“(HR. At-Tirmidzi dan ia berkata, hadits hasan shahih gharib).
- Inilah
puasa yang disyari’atkan. Tidak sekedar nahan diri dari makan dan
minum. Dalam sebuah menahan diri dari makan dan minum”. Dalam hadits
shahih disebutkan : “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan
perbuatan dusta serta kedunguan maka Allah tidak butuh terhadap puasanya
dari makan dan minum .(HR. Al-Bukhari, Ahmad dan lainnya)
- Dalam
hadits lain dikatakan : Betapa banyak orang puasa, bagian dari puasanya
(hanya) lapar dan dahaga. ” (HR. Ahmad, hadits hasan shahih) (Dan ia
menshahihkan hadits ini.)
0 komentar:
Posting Komentar